Life Begins at 20.

Kalo orang bilang life begins at 40, gw bilang life begins at 20.

Dua puluh adalah angka dimana umur kita udah ngga bisa dibilang anak-anak lagi. Walaupun belum bisa dikatakan betul-betul dewasa, tapi di umur segini tuntutan untuk bisa lebih dewasa adalah sangat besar.

Pertanyaan-pertanyaan seperti “Dita sekarang udah punya calon?”

Atau “Dita abis lulus mau kerja dulu atau sambung master?”

Dan “Dita mau kerja di Indonesia atau di Malaysia?”

Oooh, people. Please. Don’t force me to answer all those questions. It sucks.

Don’t let me experience this ‘life crisis’ in the beginning of 20.

My life seems like reach ‘start’ button now.

My life already begins.

Yeah. At the age of 20, I have almost everything.

Happy family. Nice siblings. Great father. Good friends. Laptop canggih pemberian bapakku. Handphone yang (meski butut tapi tetep) ada pulsanya. Kamera pocket hasil gaji jadi anggota paskibraka 17 Agustus tahun lalu. Mp3 player hasil gaji magang selama satu bulan. Tampang yang ngga cantik tapi cute (Ini sih narsis!). Badan yang sehat walafiat meski tinggi agak ’menyedihkan’ dan badan agak ’mengharukan’..

Tapi semua itu gw syukuri.

Gw ngga kekurangan satu apa pun dalam hidup ini.

Gw tidak merasa terancam dari segi finansial, emosional, maupun fisikal. Alhamdulillah.

Then, if you have almost everything in this world, what else do you expect God will give you?

[aman damai. 12 Oktober 2008]

[11.48 pm]


About this entry