She’s Growing Up.

Betapa terkejutnya aku saat melihatnya kembali pada hari ketiga Idul Fitri setelah hampir satu tahun aku tidak pulang ke tanah air.

Ya. She’s growing up.

Saudaraku itu kini telah memasuki dunia pubertas. Walaupun baru kelas satu SMP, tapi darah dari vaginanya telah luruh. Payudaranya mulai menampakkan wujud. Walaupun bajunya masih kekanak-kanakkan, tapi tetap saja dirinya gagal menyembunyikan buah dadanya yang telah tumbuh dan masih akan membesar.

Tingginya kini melebihi tinggi badanku yang sudah hampir lulus kuliah ini. Badanku pun kalah besar dengan badannya. Rambutnya pendek mencapai paras telinga. Poninya tersusun rapi di atas dahinya. Lesung pipi-nya muncul saat dirinya dipanggil Gita Gitawa oleh saudara-saudaranya yang lain. Kulitnya yang hitam keturunan bapaknya menambah manis penampilannya.

Suaranya kini tidak secempreng dulu. Kalau dulu dirinya sangat blak-blakan, ngomong dan bertindak semaunya, kini dia lebih ’tau diri’. Mungkin rasa malu mulai tumbuh dalam dirinya.

Siapa yang menyangka sekarang dalam dompetnya telah terpajang manis foto Pasha Ungu yang diguntingnya dari majalah? Siapa yang menyangka sekarang dirinya telah hafal teks lagu Afgan di luar kepala? Siapa yang menyangka sekarang dirinya lebih suka menyandang tas selempang bergambar barbie berbanding tas sekolah SD-nya yang kini terlihat konyol?

Sekarang dia telah pandai bermain game yang ada di handphone abangnya. Menelepon orang-orang. Mengirim sms pada semua orang. Bermain tebak-tebakan dengan kami semua bahkan sesekali membuat lawak.

Maka saat kuberikan tas selempang merahku bersama dengan tas strawberry pemberian teman-temanku dulu, senyumnya mekar menunjukkan gigi-giginya yang tidak beraturan. ”Makasih yah Teh Dita,” ujarnya sambil tersipu.

Aku tahu dirinya akan menyukai kedua tas itu. Besoknya, dengan gagah dirinya telah mengenakan tas strawberry barunya itu untuk jalan-jalan ke supermarket Giant. Aku tahu kalau kedua tas itu akan lebih berguna jika kuberikan untuknya daripada hanya menumpuk dalam lemariku hingga berdebu.

Pemberian tas strawberry itu hanyalah simbol.

Simbol bahwa aku telah lama meninggalkan dunia itu.

Juga simbol bahwa dirinya kini telah memasuki dunia baru.

Maka aku tidak akan heran jika tidak lama lagi dirinya akan membuat email pertamanya. Lalu mendaftar account baru di Friendster. Facebook. Myspace. Lalu mulai buka-buka video bokep di youtube. Lalu mulai membeli majalah Gadis dan Gogirl. Lalu bergosip dengan teman-temannya. Mencari cowok. Mengecat kukunya dengan kuteks. Mencoba dandan. Pakai parfum. Pakai high heels. Contact Lens. Lalu mungkin mulai memakai rok mini. Atau mulai mewarnai rambutnya. Atau bahkan mulai merokok. Minum. Clubbing..

Ah.. What a life.

Lama-lama dunia ini mudah ditebak kan, teman?

[aman damai. 12 Oktober 2008]

[11.02 pm]


About this entry