Laskar Pelangi The Movie : Semua Berawal dari Mimpi

Akhirnya gw berkesempatan juga nonton Laskar Pelangi! Yuhuuu!

Gw yakin lo semua pasti setuju bahwa film ini adalah film yang paling ditunggu sepanjang tahun 2008 setelah film Ayat-Ayat Cinta Februari silam.

Gw semakin bersemangat untuk menonton film ini setelah gw mengetahui bahwa Salman Aristo-lah yang menulis adaptasi novel ke bentuk skenarionya. Masih inget ngga waktu gw ketemu Mas Aris di KL pas launching film Ayat-Ayat Cinta di Malaysia? Yepp. Waktu itu masih bulan Mei. Mas Aris bilang skenarionya telah selesai diadaptasi dan proses syuting akan segera dimulai di Belitong. Para crew dari Jakarta telah pun berangkat ke Belitong dan Mas Aris sedikit membocorkan bahwa film ini akan dibintangi oleh anak-anak Belitong asli. Sementara itu, pemeran dewasanya akan diperankan oleh aktor dan aktris tanah air. Mas Aris juga bilang kalau film ini kemungkinan akan diputar pada waktu Lebaran di saat anak-anak libur sekolah.

Dan ternyata apa yang semua diomongin mas Aris benar adanya.

Waktu gw nonton film ini, di studio penuh sama anak-anak yang dibawa ke bioskop sama orangtuanya. Seketika suasana bioskop pun jadi riuh. Bahkan saking banyaknya permintaan penonton akan film ini, salah satu bioskop di Bogor menyiapkan dua studio sekaligus untuk film ini!! Wheewwwww. Luar biasa. Sepanjang gw ke bioskop, baru kali ini gw ngeliat ada film yang diputer di dua studio sekaligus untuk menghindari masalah kehabisan tiket, apalagi di waktu-waktu liburan Lebaran kaya gini. Belum lagi iklan yang begitu luar biasa gencar. Sampe-sampe Bank Mandiri bikin penawaran khusus : beli satu tiket gratis satu tiket pake kartu debit mandiri. Whewww..

But, first of all, gw mau bilang kalo gw ngga akan fokus ngebahas soal adaptasi novel ke film. Soal ini gw udah pernah nulis waktu review Ayat-Ayat Cinta.

Film ini bertabur bintang. Mulai dari aktingnya Cut Mini yang awesome, sampe akting para Laskar Pelangi yang lucu nan menggemaskan.

Banyak adegan yang mengundang tawa, salah satunya adalah adegan waktu Mahar menyanyikan lagu Seroja. Sumpah kocak paraaah! Juga waktu Mahar lagi ngikutin lomba Cerdas Cermat, lalu tiba-tiba dia jadi lupa jawabannya karna difoto sama fotografer. Ahahahahahahaahhh! Lucu banget!! Terus waktu Mahar sambil sok-sok pamer ngasi tau ke Ikal tentang musik Jazz, terus spontan dia ngomong gini : ” Ngga ngerti ko.” Ahahahahha…sumpah gemes abis gw… Loh loooh. Kok semuanya jadi tentang Mahar gini? Well, gw pikir castingnya bagus. Aktingnya menawan. So Natural. ’ngena’ banget sama karakter aslinya di novelnya sebagai seniman yang berbakat walau terkadang terkesan sok tahu. Tambahan lagi si Mahar ni ganteng! Sumpah yah, ntar pas udah gedenya pasti ganteng deh. Yakin gw..

Selain itu, scene waktu di Toko Sinar Harapan, itu juga kocak parah. Waktu baca bukunya aja gw bingung abis, kok bisa ya orang jatuh cinta dengan seseorang hanya dengan melihat kukunya aja? Dan visualisasi di film ini bener-bener bikin gw ketawa. Kuku yang bersinar. Sehelai bunga yang tiba-tiba jatuh. Wajah Ikal yang demikian mabuk asmara.. Bener-bener lucuu!! Scene seperti itu ternyata masih relevan dipake di tahun 2008 yang udah begitu canggih ini. Buktinya orang-orang satu studio, termasuk gw, ketawa ngakak ngeliat scene itu…

Memang, Lintang adalah bintangnya. Dia telah mencuri perhatian kita dari awal film, semenjak dirinya dinobatkan oleh Bu Mus menjadi murid nomor satu. Lalu saat dirinya berhadapan dengan buaya sampai lebih dari tiga kali. Lalu saat di rumahnya bersama bapak dan adik-adiknya. Lalu saat dirinya dengan cemerlang menjelaskan rumus fisika kepada dewan juri dan seluruh audien saat lomba cerdas cermat. Sungguh Lintang merupakan cerminan anak-anak Indonesia yang begitu semangat meraih pendidikan namun selalu terbentur dengan satu masalah klasik : kemiskinan. Lintang yang 80km bolak-balik menggunakan sepedanya ke sekolah dan tidak pernah sekali pun bolos meski pun diterpa panas terik maupun hujan badai. Dirinya memang layak mendapatkan porsi yang ’cukup banyak’ di film ini.

Satu hal lagi, film ini sangaaaatt melayu. Bahasanya. Logatnya. Hal ini semakin membuktikan keserumpunan budaya Indonesia dan Malaysia.

Tapi sayangnya ngga semua karakter dikenalin. Sampe akhir film, gw hanya bisa menerka-nerka yang mana satu yang Trapani, dan yang mana satu yang Syahdan. Kedua anak itu ngga diperlihatkan karakternya. Kasian kan..

Dengan film ini, berarti sudah tiga film yang diproduksi Riri Riza yang semuanya tentang anak-anak setelah Petualangan Sherina dan Untuk Rena.

Dari segi jalan cerita, well.. harus gw akuin gw sedikit kecewa. Memang alur cerita sedikit berbeda dengan novelnya. Yang gw sayangkan adalah Riri Riza seperti ’memaksakan’ keberadaan aktor-aktor kawakan seperti Tora Sudiro, Rieke Diah Pitaloka, Jajang C. Noer, Alex Komang sampe Slamet Raharjo. Aduuuh. Gw pikir ni bentar lagi jangan-jangan ada Christin Hakim nih. Atau jangan-jangan Dian Sastro? Tapi untung aja ngga ada.. Masalahnya, peran-peran yang dimainkan mereka itu sungguh tidak penting. Peran Tora Sudiro apalagi. Kenapa tiba-tiba ada Pak Guru yang suka sama Bu Mus? Belum lagi soal Pak Bakrie, guru ketiga setelah Bu Mus dan pak Harfan. Hppffhh.. Mungkin Pertamina Foundation kelebihan ngasih duit buat Riri Riza kali yak..

Gw pikir film ini layak masuk ajang penghargaan film international seperti Cannes. Tapi seandainya film ini dibuat dengan lebih serius, film ini bisa sejajar dengan film anak-anak yang menyentuh hati seperti Children of Heaven misalnya. I mean, film ini memang menyentuh hati, tapi ngga semua scene dibikin serius. Well, karna targetnya anak-anak kali yah.. Gw pikir ni mas Aris bakal bikin setipe sama Ayat-Ayat Cinta, eh ternyata ngga.. (well, at least i thought it was a serious movie).

Dari segi sinematografi, ngga usah diragukan lagi deh. Riri Riza pandai memetakan keindahan Pulau Belitong ke dalam layar lebar. Shot-shot yang diambil dari atas ke bawah, apalagi waktu yang di sela-sela bebatuan. Beuuuhhh. Indaaaah bangeeettt.

Satu hal yang gw harapkan sebagai salah satu penggemar Andrea Hirata, gw berharap film ini bisa menjadi tontonan yang bisa mengenalkan pentingnya mimpi dalam kehidupan, apalagi semenjak anak-anak. Gw berharap film ini diapresiasi demikian rupa agar ia tidak berakhir menjadi sebuah produk budaya populer semata. Semoga.

[Bogor, 5 Oktober 2008]

[00.18 am]


About this entry