Maggi ala Indon?

Gosh.

Thanks to Digi for telling me this truth. Senin kemarin saya registrasi promo Digi yang terbaru : D’Campus. Salah seorang yellow army (sebutan untuk promoter Digi) memberi saya hadiah sekaleng susu Milo dan sebungkus mie Maggi sebagai tanda terimakasih karna telah mendaftar. Seketika saya hampir tidak percaya ketika membaca kemasan Maggi (salah satu merk mie terkenal di Malaysia) yang berbunyi : Mi goreng Pluz, perencah asli ala Indon. Sila lihat gambar selengkapnya di sini :

–Wait. Apa mereka bilang?

Perencah asli ala Indon?

Hell-yeah.

Kata ‘Indon’ tersemat di situ layaknya sebuah spesialiti makanan asal negara seperti pizza ala Italia atau tom yam ala Thailand. Namun entah mengapa negara Indonesia tidak ditulis selengkapnya dan malah ditulis Indon; sebuah kata yang entah sudah disosialisasikan berapa tahun kepada setiap telinga warga negara Malaysia.

Jujur, saya tinggal di Malaysia baru dua tahun. Saya tidak begitu mengerti sejarah penggunaan kata Indon di negeri jiran ini. Bagi saya pribadi kala itu (ketika saya baru saja sampai di sini), kata ’Indon’ sungguh tidak enak didengar—terlepas dari arti sesungguhnya perkataan itu. Mungkin karna saya tidak biasa mendengar kata tersebut di tanah air. Yang bisa saya lakukan selama dua tahun ini hanyalah mengoreksi ucapan teman-teman Malaysia saya jika mereka menyebut Indonesia dengan Indon. Hal itu semata-mata karna telinga saya ’geli’ dan tidak akrab mendengarnya.

Tetapi seiring waktu berjalan, ada salah seorang senior memberitahu saya bahwa Indon memiliki arti yang negatif. Indon adalah sebutan untuk buruh asal Indonesia (para TKI) yang bekerja dengan orang Cina di sini. Sebagai majikan, mereka biasa menyebut para TKI dengan kata ’Indon’. Versi kawan Melayu saya berkata lain. Salah seorang kawan saya itu berkata bahwa dia tidak tahu bahwa Indon memiliki arti yang negatif. Dia menyebut demikian semata-mata karna sudah terbiasa menyebutnya dari dulu (untuk menyingkat Indonesia) tanpa bermaksud menjelek-jelekkan apalagi menghina.

Well, whatever alasannya, kadang saya bisa memakluminya karna mereka kesulitan merubah kebiasaan itu. Walaupun kadang-kadang yaaa gerah juga saya mendengarnya. Maka dari itu, melalui tulisan ini saya ingin menyeru kepada seluruh teman-teman Malaysia saya.

Dear all Malaysians, please lah.

Berhenti menyebut kami dengan kata ’Indon’. Telinga saya gerah mendengarnya..

Dan untuk Indonesians, please stop calling yourself as Indon. Kita ini Indonesia, bukan Indon. Well, kadang-kadang para TKI itu juga nyebut diri mereka sendiri Indon. Jadi memang kedua belah pihak ini perlu sama-sama diberitahu. Bukan maksud mau ngajarin, hanya sekedar mengingatkan. Toh kawan-kawan Malaysia saya juga tidak ada yang tersinggung ketika saya mengoreksi sebutan Indon yang keluar dari mulut mereka. Tapi bagaimana orang-orang akan berhenti menyebut kata Indon jika brand ternama seperti Maggi bahkan menyebut kami demikian. FYI, Maggi menjadi sponsor utama Gangstarz tahun ini. Saya tidak dapat membayangkan kalimat ’perencah asli ala Indon’ itu tersebar di poster, banner, iklan di tv-tv.. Tersebar merata di Semenanjung, Sabah dan Sarawak.. Tidaaaaaaakkkk!!!

ps:untung Gangstarz-nya udahan. Hpppfhhhh.

[aman damai. 27 Agustus 2008]

[01.47 am]


About this entry