Aktualisasi Negeri Jiran.

Anjriiit.

Bisa serius juga nih si Vega akhirnya?

Ok, calm down everyone. Saya ngga akan seserius itu kok. Tulisan ini hanya berupa komen dan pandangan saya mengenai negeri di mana saya sedang menimba ilmu saat ini.

Kalau saya boleh jujur, menjadi jurnalis memang benar-benar membuka mata saya betapa majunya Malaysia dan betapa Indonesia harus mempertimbangkan tindakan untuk mencontoh negeri ini. Setiap hari, sebenarnya Kerajaan (baca:pemerintah) harusnya risau karena mereka amat sangat terdesak dengan gertakan media yang semakin hari semakin haus dengan kebijakan pemerintah. Para pejabat negeri ini selalu nampak khawatir kalau melihat ada jurnalis di sekitar mereka. Kasus-kasus yang ada benar-benar di follow-up oleh media dan Kerajaan benar-benar dimintai pertanggungjawaban. Dan kini akhirnya saya menjadi amat-sangat-penasaran. Bagaimana dengan kasus-kasus yang terjadi di Indonesia yah?

Lapindo misalnya.

Udah setaun lebih kejadian aneh-bin-ajaib itu berlaku namun hingga kini saya ngga tau gimana juntrungannya.

I was like .. Oh My God. The truth is out there! So why am I still here without trying to figure out? Journalist is not trying to be a hero who trying to save the world. But journalists suppose to do something. Act. And figure out what’s happening out there.

Mmm. Can we forget about Lapindo case for a sec?

Tunggu sampai saya benar-benar kerja jadi staff jurnalis di Indonesia nanti yah. Hehe. Mari buat investigasinya nanti bareng-bareng. Walau bagaimanapun, jurnalis tetep butuh masukan dari dua pihak, masyarakat dan pemerintah. Biar nanti beritanya ngga bias.

Anyway, bermacam-macam sudah berita yang saya dapat selama enam minggu belakangan ini. Mulai dari gerakan Human Rights yang berita-nya kemudian ’dibunuh’ karena menjelek-jelekkan negeri China. Kuala Lumpur yang kini memiliki wireless gratis di sekitar KLCC. Sampe soal hotel bintang enam yang ditargetkan bakal siap tahun 2014 nanti di area KL sentral. Ya. Malaysia sedang aktualisasi diri. Di saat kondisi ekonomi mereka boleh dibilang stabil, so yang mereka lakukan saat ini ya itu tadi. Aktualisasi diri.

Berprestasi.

Menciptakan record sana-sini.

Mencoba impress the world dengan apa yang mereka punya saat ini.

Kenapa saya bilang ekonomi mereka stabil padahal harga petrol baru aja naik? Karna saya jarang sekali liat pengemis di negara ini. Walaupun itu bukan menjadi tolak ukur satu-satunya, tapi dari hal kecil kaya gitu aja udah bisa kebaca kan gimana situasi ekonomi di negeri ini? Semenjak saya menginjakkan kaki di Pulau Pinang, jaraaang banget saya jumpai pengemis. Palingan seorang dua orang di pintu masuk Prangin Mall. Di sini kebanyakkan penduduknya hidup dari berwiraswasta. Buka usaha. Pasar malam selalu ada tiap minggu. Kedai tom yam ada di sana sini. Cyber cafe. Kedai mamak. Dan maaasssih banyak lagi. Selain itu, masyarakatnya pun ngga perlu pusing soal pendidikan. Kerajaan telah pun menyediakan PTPTN alias pinjaman uang kepada setiap mahasiswa di setiap universitas negeri; tiap semester lagi! Lantas kalau masyarakatnya udah ngga perlu lagi pusing mikirin soal makanan dan pendidikan, apa yang mereka akan lakukan kemudian? Jawabannya ya aktualisasi diri kan?

Saya impressed dengan bagaimana negeri ini melayani ’tamu’. Mereka bukannya main-main mengundang turis bahkan pelajar untuk datang ke sini. I mean, liat fasilitasnya. Kuala Lumpur misalnya. Ada monorel aja udah lebih dari cukup kalo menurut saya. Kurang lebih sama kaya di Singapur. Sebagai sebuah ibukota negara, Kuala Lumpur benar-benar telah menyajikan pemandangan yang luar biasa. Mereka benar-benar ready untuk go international. Dan tentang pendidikan, Malaysia juga ngga main-main mengundang siapa pun untuk meneruskan pelajaran di sini. Fasilitas seperti perpustakaan, literatur, semuanya lengkap.

Saya juga agak impressed dengan sistem Kepala Negara yang masih diberlakukan di negeri ini. Seorang Agong menjadi sosok yang amat-sangat-penting bahkan melebihi kepopuleran PM sebagai kepala pemerintahan. Lha wong PM dilantik oleh Agong kok. Agong juga yang kemudian melantik setiap Ketua Menteri dan Menteri Besar. Bahkan hari ulangtahunnya dijadikan hari libur nasional! Waaw. Incredible.

Mengenai isu-isu yang selama ini terjadi..well. Itu sih sekedar konflik dalaman aja kalo menurut saya. Apa yang dilakukan oleh Dr. Mahathir, apa yang dikatakan oleh PM, apa tindak balas Najib..semuanya hanya akan berakhir menjadi headline surat kabar. That’s it. Tetapi apakah itu akan menjejaskan (baca:mengancam, memburukkan) situasi ekonomi di negeri ini? Jawabannya mungkin iya dan mungkin juga tidak. Walau bagaimanapun konflik dalaman partai dan konflik partai pembangkang dan partai pendukung Kerajaan hanya akan berujung pada isu politik semata. Ngga lebih.

Yang saya masih agak-agak ngga faham, mengenai isu perkauman di negeri ini. Agak aneh aja. Walaupun mereka menjunjung tinggi Bahasa Malaysia sebagai bahasa persatuan, tetapi still lagi mereka berkomunikasi menggunakan bahasa masing-masing. Yang melayu ya pake bahasa Melayu. Belom lagi dengan dialek-dialek tiap negeri yang berbeda-beda. Yang Cina cakap Cina. Yang India cakap India. Mereka punya makanan mereka masing-masing. Masing-masing kaum punya idola mereka masing-masing. Punya artis mereka masing-masing. Punya lagu mereka masing-masing. Saya ngga yakin masyarakat Cina dan India juga ikutan nonton realiti show AF. Saya juga ngga yakin masyarakat Cina suka ngobrol pake bahasa Malaysia ke sesama orang Cina lainnya.

Bahkan sampai saat ini masih ada sekolah bahkan perguruan tinggi yang mengira kaum (baca:universiti ini hanya untuk kaum ini, dan sebagainya). Heran saya. Masih ada lagi istilah bumiputera dan bukan-bumiputera. Ya ini sih sekadar pendapat peribadi aja… Jujur secara pribadi saya ngerasa aneh aja…

Kalo di Indonesia, walaupun ada yang keturunan Cina, tetapi kebanyakannya ngga bisa ngomong apalagi menulis dalam bahasa Mandarin. Kaya waktu saya ikut kongres di UKM waktu itu. Matanya sipit tapi namanya Sutrisno. Hehe. Unik kan?? Malahan waktu saya pulang ke rumah nenek yang di Tasikmalaya, orang Cina di sana bisa ngomong pake bahasa Sunda! Nah loh! Saya ajah ngga sefasih itu ngomong bahasa Sundanya..

Oiya ada satu hal lagi. Isu mengenai budaya antara Indonesia dan Malaysia. Well, jujur aja kadang-kadang sakit hati juga sih ngeliatnya. Angklung udah di-claim, batik juga, bahkan wayang kulit sampe gamelan udah di-claim punya Malaysia. Oh God..Kalo para leluhur dan nenek moyang Indonesia masih hidup, saya yakin mereka akan bilang kalo itu semua punya Indonesia. Hehe. Ngga perlu nyalahin siapa-siapa sebenernya. Karna Malaysia dan Indonesia dulunya emang satu kawasan di bawah satu nama : Nusantara. Masih inget sejarah Kerajaan Majapahit dan Sriwijaya? Yeah, sila rujuk kembali buku sejarah anda untuk lebih tepatnya. Sebenernya saya juga ngga gitu hafal tentang sejarah kedua-dua Kerajaan itu. Kalo kata salah seorang teman Malaysia saya, Badrul, dia bilang kalo dulu kan belom ada istilah Indonesia atau Malaysia. Menurutnya, dulu ada Raja yang membawa pulang kesenian dan budaya dari tempat yang pernah dikunjunginya. Gini deh biar lebih jelasnya. Seorang raja dari ’wilayah Malaysia yang kita kenal sekarang’ dulu pergi ke ’wilayah Indonesia yang kita kenal sekarang’ dan kemudian memperkenalkan budaya dan kesenian itu kepada masyarakatnya. No wonder budaya di Malaysia memiliki banyak kemiripan dengan budaya di Indonesia. Mulai dari lagu daerah, tarian daerah, baju daerah, bahkan alat-alat musik tradisionalnya. Contohnya Negeri Sembilan mirip dengan Padang dan Sabah-Sarawak mirip dengan Kalimantan. Itu semua bisa dijelaskan secara logika karena letak geografis mereka yang berdekatan. Lantas apa yang harus kita lakukan sekarang? Mungkin Indonesia harus mencontoh bagaimana Malaysia menghargai kesenian dan budayanya yang menjadi ’nilai jual’ kepada setiap turis yang datang ke negeri ini.

[Hpppfh. Rehat sejenak]

[Anjriit. Tiga halaman Ms. Word cuy! Single-spacing pula!]

Sebenernya udah lama banget saya ingin menulis tentang hal ini. Sayang banget tulisan ini ngga didukung dengan tulisan para sarjana komunikasi terdahulu sehingga tulisan saya ini akhirnya harus berakhir pada opini semata. Padahal kan bisa aja ini menjadi satu tulisan yang bagus? Hehe. Siapa tahu layak masuk koran. Tapi masalahnya saya ngga lagi dekat dengan Hamzah Sendut dan belum dapet input banyak dari Prof.Mus dan Dr.Azwan. Hehe. Alasaaaaaaaaannn!

See ya on the next writings!

Journalism really makes my eyes wide open.

ps : anyway, please do correct me if there are some mistakes data on my writing above.

[vista angkasa. 18 Juni 2008]

[02.04 am]


About this entry