Menikah untuk apa?

Dulu, saat masih single saya kerap uring-uringan atau bahasa kerennya: galau. Tapi ternyata, setelah punya pasangan pun, masih aja galau. Kenapa? karena saya merasa, meski udah punya pasangan, saya tetep ngerasa sendirian. Saya merasa tidak bahagia. Tapi celakanya, saya sudah niat untuk membawa hubungan ini ‘naek level’ ke jenjang yang lebih serius. Ya, apalagi kalau bukan pernikahan. Tapi tunggu dulu, si Vega? Menikah?! Ahh becanda nih..

Entah ini berkah atau kutukan karena bapak saya menyekolahkan saya, saya tumbuh jadi seorang perempuan yang melek ilmu–dan tidak bisa begitu saja menerima sebuah teori atau faham tertentu hanya karena itu sudah biasa dipraktekkan di masyarakat dan telah menjadi konsensus bersama. Lalu pertanyaan mendasar itu pun mengusik pikiran saya: “Kenapa manusia harus menikah? Siapa yang bilang manusia harus menikah? Untuk apa manusia menikah?” dan seterusnya, dan seterusnya.

Agama saya bilang manusia diciptakan berpasang-pasangan–agar ia tidak merasa sendirian. Hawa diciptakan, untuk menemani Adam. Jelas di sini bahwa laki-laki lah pemeran utamanya, sementara perempuan hanya figuran, subordinat. Lalu ketika seorang perempuan seperti saya, yang ingin mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas, apa yang saya lakukan? Ya mencari jawabannya ke orang yang mau cerita, yang udah pernah menikah.

Ngomongin soal pernikahan, buat sebagian orang mungkin tabu. Seolah ngomongin aib keluarga/rumah tangga sendiri. Saya berani taruhan, even orangtua kita sendiri ngga ada yang pernah cerita soal kehidupan pernikahannya, kan? Mereka mempercayakannya kepada kita, karena menganggap kita semua sudah dewasa.

Jadi waktu saya lagi jalan-jalan ke Gramedia di Botani Square dan melihat judul buku ini “Menikah untuk bahagia”, saya langsung masuk perangkap marketing buku ini.

Image

Saya seperti mendapatkan pembenaran, jawaban atas pertanyaan saya, ya menikah harusnya untuk bahagia, bukan? Well, judul lengkapnya adalah “Menikah untuk bahagia” dengan subjudul yang menurut saya agak menggelikan “Formula cinta membangun surga di rumah”. Memutuskan membeli buku ini semata-mata karena tertarik dengan judulnya, tidak membuat saya menyesal. Soalnya selama ini pertimbangan saya membeli buku memang lebih melihat “siapa penulisnya” bukan “bukunya soal apa/apa isinya”. Penulis buku ini adalah pasangan suami-istri yang mendeklarasikan diri mereka sebagai “relationship coach”. Wah, ini bisnis psikolog jenis baru kali ya–ujarku membatin. Pasangan suami-istri itu adalah Indra Noveldy dan Nunik Hermawati.

Buku ini tidak bercerita soal bagaimana awal pertemuan mereka dahulu. Tidak dijelaskan apakah mereka berdua itu awalnya teman kuliah apa teman kerja, apakah ada perbedaan usia di antara mereka, atau adakah perbedaan suku/latar belakang keluarga. Menurutku sih buku ini lebih ke sharing pengalaman-pengalaman mereka selama kaunseling dari beberapa pasangan yang datang berkonsultasi ke mereka. Pas baca buku ini saya jadi serasa lagi ikut kaunseling beneran. Bedanya, mereka ‘memandu’ saya lewat tulisan, bukan secara verbal. Tapi bagusnya, justru dengan membaca, jadi lebih ngena. Kalo saya beneran ikut kelas motivasi tentang pernikahan, mungkin mendengar si coach ini ngoceh sepuluh menit pertama saja, saya akan langsung membatin “sotoy nih pembicaranya” atau “ahh lebay nih, macem orang bener aja”, lalu tidak lama kemudian saya pasti keluar ruangan. Hahahaha..

Di awal buku ini, si penulis bercerita bahwa 5 tahun pertama adalah masa-masa sulit di pernikahan mereka. Bayangkan, dua pribadi yang berbeda, kini tinggal bersama, satu atap! Mereka juga mengingatkan–meski dengan bahasa yang memang agak ‘lebay’, bahwa demi mencapai pernikahan impian, harus berani bayar ‘harganya’. Mereka juga mengingatkan, bahwa memasuki gerbang pernikahan, tentunya harus ada bekal. Haha. Bekal saya apa ya? Yang paling nohok itu, saat mereka bilang, “waktu kita mau ujian sekolah aja, kita les sana-sini biar lulus. Mau kerja juga, nyiapin diri untuk capek-capek kuliah dulu. Ini saat mau nikah, apa bekal anda?”–yahh kurang lebih kaya gitu intinya, hahahaha.

Menariknya, mereka juga membahas ‘bab’ paling mendasar tentang pernikahan. Mereka bertanya, apa tujuan anda menikah? Di kelas-kelas kaunseling yang mereka adakan, kebanyakan peserta menulis bahwa tujuan mereka menikah adalah:

-sebagai ibadah

-ingin memiliki anak

-sudah cukup umur

-tekanan lingkungan

-tidak enak sama orangtua

Nah loh. Lantas, tujuan saya menikah untuk apa? Err.. saya pikir saya ngga pengen buru-buru jadi ibu juga. Saya hanya ingin lebih bahagia, untuk memenuhi kebutuhan emosi aja sih kayanya.. Lalu buku ini mulai men-challenge pikiran kita dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti :

Image

Si penulis juga berhasil ‘menangkap’ kegelisahan-kegelisahan standar di masyarakat kita tentang pernikahan, seperti :

Image

Saya sempat tertegun lama di halaman ini. Sampe akhirnya mereka menulis bahwa “Rasulullah aja menjalani kehidupan rumah tangganya dengan penuh cinta..” Ya, saya langsung berpikir, ya suka atau tidak suka, memang itu sih ‘bahan bakar’ utamanya..

Image

Ya, seringkali kita merasa kita adalah yang paling benar. Kita udah ngelakuin semuanya, kita udah lakukan yang terbaik. Ya itu kan menurut kamu? Menurut pasangan gimana? Menariknya, buku ini tidak menghakimi pembaca. Hampir di setiap tulisan selalu diakhiri dengan kalimat “keputusan ada di tangan anda”. Selain itu, penulis juga selalu mengingatkan, “bukankah pasangan juga mengharapkan hal serupa dari anda?”. Si penulis juga cukup fair dalam menyebutkan contoh demi contoh, tanpa menyebutkan apakah si A yang lagi diceritakan ini adalah perilaku si istri atau si suaminya? Mereka selalu menyebutnya “si pasangan”–untuk menghindari bias gender kali ya (kecuali di contoh yang bab “Berubah atau dipaksa berubah”).

Image

Saat kita merasa sudah memberikan semuanya, kita pasti menuntut pasangan untuk melakukan hal serupa. Lho, hubungan kok jadi transaksional? Wajar, naluri manusia pasti ingin mendapatkan balasan. Tapi katanya, hukum alam di pernikahan itu adalah memberi, memberi, dan memberi. Tapi versi saya sih, kalo kita ngarepin balesan, dan ujung-ujungnya ngga dapet, ya cuman makan ati doang nantinya. Hahahaha.. jadi intinya ya ikhlasin aja.

Image

Kesindir? Ehh ga maksud lohh. Hahahahaha.. Di bagian ini saya cukup kaget juga. Karena menurut si penulis, dari pasangan yang dateng ke mereka untuk konsultasi itu kebanyakannya adalah mereka yang dari luar justru terlihat harmonis dan baik-baik saja. Padahal, ternyata mereka hanya menjalani status tanpa hubungan. Statusnya sih masih suami-istri, tapi sebenernya udah ngga ada lagi ikatan emosi di antara mereka. Waahh nyeremin nih, sumpah.

Image

Saat kita sudah merasakan “Status tanpa hubungan”, pasti kita akan kepikiran, jangan-jangan saya emang salah pilih pasangan nih.. Sumpah ya, buat saya ini lebih mengerikan. Bayangkan kalo ini kepikiran saat sebenarnya kalian sudah menikah let say selama 10 tahun.. wiiihh.. saya yang belum nikah aja merinding dengernya.

Image

Tapi tenang, semuanya bukan berarti ngga bisa diperbaiki. Manusia itu bisa berubah–secara sukarela atau terpaksa karena keadaan. Kupikir perilaku manusia itu sebenarnya bisa dipelajari, makanya ada yang namanya ilmu psikologi, bukan?

Image

Lalu selanjutnya, muncul juga beberapa pikiran ‘umum’ lainnya seperti di atas ini. Atau satu-satunya alasan untuk bertahan di pernikahan ini adalah kalimat di bawah ini :

Image

Lalu, ada juga pasangan yang ngga jarang memikirkan exit strategy seperti di bawah ini :

Image

Tapi si penulis tidak menyarankan perceraian–meski sebenarnya semua keputusan ada di tangan anda. Penulis hanya mengingatkan, bahwa perceraian adalah langkah penyelesaian termudah tapi sangat costly. Mahal harganya. Apakah tidak lebih baik jika kita terus berusaha memperbaiki diri? Sehingga nanti pasangan bisa melihat, dan ikut tertular memperbaiki diri–demi mewujudkan pernikahan yang diidamkan bersama? Tapi jika memang sudah buntu sama sekali, perbaikan diri ini akan membawa kita menyambut ‘jodoh baru’ yang lebih baik dan tidak akan membawa kita ke kesalahan yang sama.

Image

Ya, ada beberapa bagian di buku ini juga yang membuat saya serasa ‘dinasehati’. Saya rindu dinasehati. Saya senang dinasihati. Kehilangan ibu membuat saya tidak memiliki naluri. Tumbuh besar bersama bapak justru membuat saya merasa jagoan–padahal sebenernya cengeng.

Image

Well, jika memang anda memutuskan untuk menyudahi pernikahan anda, jangan terburu-buru memulai hubungan baru. Hmm mungkin ini bisa saya terapkan sekarang, setelah impian pernikahan itu akhirnya saya kubur dalam-dalam. Ternyata, saya lebih lega sekarang–tidak dibelenggu lagi oleh harapan bahwa menikah akan membuat saya lebih bahagia.

Image

Nah, ini yang sebenernya paling saya suka dari buku ini. Mind set saya harus diubah, bahwa soulmate itu harus diciptakan, bukan ditemukan. Alangkah bahagianya jika pasangan tidak hanya berperan sebagai suami/istri dan ayah/ibu saja, tapi juga bisa menjadi partner, sahabat, dan kekasih. Menurut si penulis, kebanyakan peran di keluarga di Indonesia terbatas hanya sebagai suami/istri dan ayah/ibu saja.

Oh iya, saya juga belajar tentang 5 bahasa kasih yang diungkapkan di buku ini. Si penulis juga menyadurnya dari buku lain–yang saya lupa judul aslinya dan siapa pengarangnya. Jadi, ada 5 bahasa kasih yang bisa dipelajari–yang menurut saya tidak terbatas pada pasangan aja, tapi ini bisa jadi bahasa kasih ke anak juga, ke temen, dan ke orangtua juga.

Pertama itu soal kata-kata pendukung. Siapa yang ngga suka dibilang cantik sama pasangannya? Atau sekadar kata-kata penghargaan nan lebay–tapi dibutuhkan seperti “Selamet ya udah bisa naik motor, kamu hebat dehh”. Bukannya kata-kata penjatuh semangat seperti “kok sebentar-sebentar minum obat? walah..keluarga obat..” Hahaha..

Kedua, ngasih hadiah. Siapa yang ngga suka dikasih hadiah? Kalo emang kita suka/sayang sama pasangan, pasti kita akan berusaha bikin dia bahagia, bikin dia seneng, termasuk memenuhi kebutuhannya dengan memberikan yang dia butuhkan. Bukannya malah “kok banyak bener CTM-nya? kamu mau bunuh aku?”. Hahaha..

Ketiga, sentuhan fisik. Kupikir semua orang sudah setuju bahwa betapa sebuah pelukan bisa berarti segalanya. Meski hanya sebuah pelukan, tapi sesungguhnya bisa sangat menenangkan. Bukannya malah “Kamu mau pulang? Yaudah ati-ati ya..” Haha..

Keempat, momen. Kita pasti menantikan kehadiran pasangan kita saat kita lagi di titik terendah di hidup kita, atau di titik tertinggi saat lagi seneng-senengnya. Atau saat kita lagi ulangtahun, saat kita lagi dikejar deadline tulisan, atau sekadar nemenin nonton. Bukannya malah “Aku ngantuk.. film apa sih ini..”. Hahahaha..

Kelima, act of service–pelayanan. Siapa yang ngga suka dibikinin makanan sama pasangannya? Siapa yang ngga suka dibikinin kopi sama pasangannya? Siapa yang ngga suka dipijitin sama pasangannya, saat kita lagi letih pulang kerja? Bukannya malah “Maaf ya aku belum bisa nganter kamu pulang..” Hahahaha..

Oh iya, buku ini juga selalu mengingatkan agar kita mau dengan secara SENGAJA MENAMBAH ILMU tentang pernikahan. Buku ini tentu bukan satu-satunya buku ‘pengingat’. So, semesta, maaf ya. Saya lagi sibuk memperbaiki diri. Saya ngga peduli sama Fathonah, Fatin, atau berapa produksi batu bara Bumi Resources tahun ini. Karena pada akhirnya, kita hanya akan memikirkan diri kita sendiri–keluarga kita sendiri. Karena hanya itu harta yang kita miliki, hanya itu yang akan membuat kita kaya dari segi emosi. Sambil tentu, memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk orang lain. Demi menjadi sebaik-baiknya manusia di muka bumi.

PS: ditulis di tengah-tengah pertandingan Indonesia VS Belanda, yang sekarang baru 2-0 menang Belanda, hahahaha.. di akhir tulisan, mari kita tonton iklan berikut ini. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Buku itu juga mengingatkan, perbaiki terus diri kita, jadikanlah pasangan kita sebagai lelaki/perempuan paling bahagia di dunia–dan pastikan dia tidak akan menyesal karena telah memilih kita. Karena kita mampu membahagiakannya.

[Bogor, 7 Juni 2013]

[10.23 PM]


About this entry